universitas gunadarma

Minggu, 20 Maret 2016

Perekonomian Indonesia


Baiklah di dalam tulisan saya ini, saya akan menjelaskan tentang  “Perekonomian Indonesia Dewasa Ini”. Ekonom menyatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang lebih kompleks dibandingkan pada 2008.
Direktur Eksekutif Mandiri Institute Destry Damayanti mengatakan permasalahan yang dihadapi sekarang dibandingkan kondisi pada 2008 dan 2009 sangat berbeda karena kondisi perekonomian saat ini justru lebih kompleks.
Pada 2008, Indonesia masuk dalam kondisi krisis akibat kasus perumahan di Amerika Serikat (AS).
"Ekonomi Indonesia pada 2009 tumbuh 4,5% karena banyak aliran masuk ke Indonesia, dengan harga komoditas yang naik, mempengaruhi pendapatan masyarakat. Memang ekonomi global buruk, tapi ada booming komoditi," ujarnya di Plaza Mandiri, Senin (21/9/2015).
Saat krisis 2008, kondisi perekonomian nasional masih kuat dengan harga komoditas yang tinggi mendorong investasi di dalam negeri.
Indonesia yang bergantung pada komoditas saat itu juga memperoleh keuntungan karena banyak wilayah bergantung pada komoditas. Komoditas inilah membuat pendapatan dan daya beli masyarakat menjadi meningkat.
"Booming komoditi memang high leverage, jadi leverage-nya memang tinggi sehingga sektor keuangan ada likuiditas. Apalagi ada stimulus, mereka tidak mungkin taruh lagi di sektor keuangan," katanya.
Destry menuturkanharga komoditas ini tertekan dan menurun sejak 2012 sehingga ekonomi Indonesia mengalami deselerasi.
Sebab, para investor menyadari pelemahan ekonomi global membuat orang menarik investasi pada komoditas.
"Orang sadar ternyata komoditas naik tidak ada alasannya. Global demand tidak ada. Orang justify, orang berpikir tidak masuk akal," ucapnya.
Pada saat yang sama, tambah Destry, terjadi normalisasi kebijakan moneter dimana pengurangan stimulus atau tappering off dilakukan sejak 2013.
Tak hanya itu, kondisi melemahnya perekonomian China juga memperkeruh perekonomian nasional. Pemerintah China pun memutuskan untuk mendevaluasi mata uang Yuan.
"Yuan masih over value, secara fundamental dan artinya ekonomi domestik belum recovery akan dorong ekspornya, ekspor meningkat. Amerika yang recover akan mundur lagi makanya The Fed menaikan bunga mundur," tutur Destry.

Dengan kondisi global yang masih belum membaik, dia menyarankan agar pemerintah memberikan strategi yang tepat seperti menggerakan reindustrilisasi dan mendorong konsumsi dalam negeri.
"Ini kondisi tidak mudah. Jadi strategi yang diambil pemerintah harus bertumpu domestik ekonomi. Kita harus sangat jeli melihat sektor apa yang harus didorong ke depan. Ini perlu suatu terbosoan," ujar Destry. sumber: Bisnis.com, JAKARTA .

Sementara itu Dalam uraiannya Muliaman Hadad mengatakan saat ini memang terjadi pelemahan pertumbuhan ekonomi di beberapa bagian dunia, terutama di China, dan negara-negara berkembang termasuk di Indonesia.
Menjawab pertanyaan apakah Indonesia sekarang mengalami krisis ekonomi, Muliaman mengatakan "Tidak". "Kalau kita lihat negara-negara lain berada dalam situasi lebih buruk dari kita. Thailand, Malaysia, Singapura dan negara-negara berkembang lainnya. China yang dulu bisa tumbuh 8-9 persen setahun sekarang mengalami kesulitan untuk mencapai 6 persen."
"Namun dalam waktu bersamaan, di Eropa meski ada krisis di Yunani, namun pertumbuhan ekonomi di sana masih bagus. Demikian juga dengan Amerika Serikat." kata Hadad yang pernah menjadi Wakil Gubernur Bank Indonesia tersebut.
"Inilah yang membedakan antara keadaan sekarang dengan krisis ekonomi global di tahun 2008. Yang juga terjadi karenanya sekarang ini tidak ada reaksi global bersama-sama untuk mengatasi situasi." tambahnya.
Dikatakan oleh Hadad bahwa dalam pertemuan otoritas jasa keuangan dan perbankan baru-baru ini di Turki yang dihadirinya, Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia mendapat desakan untuk segera menentukan sikap apakah akan menaikkan suku bunga atau tidak,  ghal yang dikatakannya menciptakan ketidakmenentuan sekarang ini.
"Mereka sendiri selama dua tahun terakhir tidak bisa memutuskan, dan kita juga tidak bisa memaksa mereka. Jadi keadaan ekonomi sekarang di Indonesia banyak disebabkan karena faktor eksternal." tambah Hadad.
Dalam situasi ini, Muliaman Hadad mengatakan kepada puluhan mahasiswa Indonesia yang hadir dalam acara ini untuk melihat persoalan ekonomi Indonesia dalam taraf menengah dan panjang.
"Beberapa bulan ke depan dinamika ekonomi dunia masih akan gonjang ganjing. Namun anda semua harus melihat potensi ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang, karena di situlah anda akan bisa mengisinya setelah selesai sekolah nanti." kata Hadad, yang menjadi Doktor Ekonomi di Monash di tahun 1996.
Berbicara mengenai awal tahun 2016, Muliaman Hadad mengatakan hal yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini misalnya dengan mengeluarkan paket kebijakan ekonomi bulan September adalah untuk menciptakan momentum baru guna menumbuhkan kembali gerak perekonomian.
"Krisis ekonomi itu bisa datang dan pergi tanpa diundang dan dampak dari suatu putaran itu biasanya baru terasa 6-9 bulan berikutnya. Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk mendorong terus dengan berbagai kebijakan guna menghidupkan kembali ekonomi." tambah Hadad.
Dia juga optimistis bahwa modal asing yang sekarang ini keluar akan kembali ke Indonesia.
"Modal itu seperti air selalu mencari jalannya sendiri. Sekarang di AS, tingkat suku bunga sangat rendah, demikian juga di Eropa. Di negara-negara berkembang lebih rendah dari kita. Di Indonesia marginnya masih tinggi, jadi setelah mereka mencari ke sana kemari untuk menanamkan modalnya, saya yakin mereka akan kembali ke Indonesia." kata Hadad.
Dan di tengah situasi perekonomian yang tidak menentu ini, menurut Hadad, sebagai bagian dari Otoritas Jasa Keuangan yang perlu dilakukan adalah menjaga situasi guna memastikan tidak adanya misalnya bank atau lembaga keuangan yang "jatuh'.
"Dengan dolar Amerika Serikat yang terus menguat terhadap rupiah, sebenarnya kita tidak khawatir. Bank Indonesia tidak khawatir kalau dolar mencapai Rp 15 ribu. Juga indeks saham menurun tidak berpengaruh pada bank, karena di Indonesia, bank tidak boleh meminjamkan dana untuk membeli saham. Hal seperti itu terjadi di China, sehingga turunnya indeks saham mempengaruhi bank." kata Hadad lagi.
Dan pada Tahun 2015 diasumsikan banyak orang sebagai tahun yang lesu. Meskipun di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo yang digadang-gadang akan membawa perubahan yang signifikan untuk Indonesia, nyatanya dalam perbandingan perekonomian, keadaan Indonesia dinilai tidak sehebat beberapa tahun yang lalu.
Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat Indonesia menilai bahwa negaranya telah dalam keadaan krisis yang ditakutkan berisiko kembali ke keadaan tahun 1998.
Akan tetapi pemahaman tentang keadaan krisis yang berisiko untuk kembali ke keadaan tahun 1998 tidak didasari dengan fakta atau data yang kuat. Oleh karena itu, klaim atau isu tersebut hanya beredar seperti kabar burung yang ditakutkan akan membawa kegelisahan bagi netizen Indonesia lainnya.
Oleh karena itu, bagaimana keadaan ekonomi Indonesia untuk tahun 2015 ini? Bagaimana perbandingannya dengan tahun-tahun sebelumnya? Apakah keadaan ini dapat benar-benar berisiko untuk kembali pada krisis tahun 1998?
Perbandingan Pada Tahun Sebelumnya – Hasil Persen Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pada tahun 2014, tepatnya pada akhir tahun di bulan Desember, Bank Dunia telah melaporkan dalam ekspektasinya – bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 nanti akan menyentuh angka 5.2% dan bahkan dapat lebih dari jumlah tersebut.
Hal ini dijelaskan di situs worldbank.org – prediksi tersebut keluar setelah evaluasi Bank Dunia terhadap Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi 2014 yang mencapat angka 5.1%.
Prediksi adanya pelambatan dari pertumbuhan di 2015 seperti penyesuaian harga minyak dunia serta bahan bakar dan termasuk efek dari ekspor-impor global. Akan tetapi, Kepala Perwakilan Bank Dunia Untuk Indonesia – Rodrigo Chaves mengungkapkan “tips” untuk menghindari perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut.
“Pembelanjaan pasar domestik di Indonesia yang bertahan tinggi terus menopang pertumbuhan. Jika Indonesia memperkuat pondasi ekonomi yang lain dan memperkuat iklim investasi, Indonesia dapat mendorong kembali laju pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih pesat,” tutur Rodrigo Chaves dalam penjelasan singkat tentang “tips” tersebut.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini memang terbukti jelas dalam sebuah laporan singkat abstraksi dari Badan Pusat Statistik. Hal ini terkait dalam penjelasan BPS dalam triwulan pertama bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4.71%.
Jumlah tersebut jelas melambat jika dibandingkan dari triwulan pertama dari tahun 2014 yaitu 5.14%. BPS menjelaskan dalam jumlah angka terkait perlambatan tersebut sebesar 0.18%. Dari sisi produksi adanya pengaruh oleh faktor musiman seperti Lapangan Usaha Pertanian, Perikanan, serta Perhutanan.
Sementara itu menurut Menteri Keuangan – Bambang Brodjonegoro, menjelaskan bahwa dari sisi global serta penilaian World Economic Outlook IMF, dinilai turun dari 3.8% ke angka 3.5%. selain terpengaruh dari harga minyak dunia, Menkeu dari situs kemenkeu.go.id – juga menjelaskan adanya pengaruh dari lemahnya pertumbuhan perekonomian besar dunia seperti Jepang, Eropa, bahkan Tiongkok.
Menkeu Masih Optimis
Kemudian, Menkeu juga masih optimis dengan keadaan seperti ini bahwa pertumbuhan perekonomian Indonesia dapat menekan inflasi di bawah 5% dan dapat sesuai dengan target APBN pada 5.7%.
Dengan keadaan seperti penjelasan di atas, Dana Moneter Internasional (IMF) menilai bahwa Indonesia dan negara berkembang lainnya tengah mendapat efek negatif dari gejolak keuangan global.
Christine Lagarde sebagai Managing Director IMF di situs CNN Indonesia – menjelaskan bahwa walaupun dengan keadaan seperti ini, Lagarde tetap optimis dengan pengalaman Indonesia menghadapi krisis dan dapat terus mampu bertahan dari tekanan dan turbulensi lainnya.
“Lihatlah bagaimana Indonesia melewati krisis keuangan global dan ‘taper tantrum’ di 2013. Indonesia saat ini tentu lebih mampu menangani turbulensi semacam ini dibandingkan dulu,” tutur Lagarde.
Hampir sama dengan penjelasan sebelumnya, Lagarde juga menjelaskan bahwa lemah dan cenderung turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dikarenakan dua faktor:
1.  Pemulihan ekonomi negara maju yang lebih rendah dari ekspektasi
2.  Perlambatan ekonomi yang berlanjut di sejumlah negara berkembang seperti di Amerika Latin.
Lagarde juga mengungkapkan bahwa mitra dagang utama Indonesia, Tiongkok yang mengalami perlambatan ekonomi juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, Lagarde juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang paling rendah dari empat tahun terakhir karena jumlah angka di bawah 5%.
Akan tetapi Lagarde menuturkan bahwa “Perlambatan ini tidak permanen. Indonesia dapat berlalih ke lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi. Tetapi perlu untuk memposisikan dengan tepat di tengah pergeseran ekonomi dan keuangan global.
Di antara Paket Kebijakan Ekonomi dan Ketakutan Kembali ke 1998
Selain dari berbagai penjelasan di atas, dalam memasuki triwulan terakhir pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo juga mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang ada dua tahap. Akan tetapi, efek dari kebijakan ini juga belum dapat dirasakan karena jelas kebijakan paket ekonomi ini masih baru saja berjalan.
Hal tersebut dijelaskan dalam situs beritasatu.com – juga terkait anjuran Presiden yang menilai masyarakat Indonesia harus paham dengan nilai tukar dolar Amerika yang masih menguat terkait dengan tekanan eksternal.
Dengan penjelasan di atas yang telah mengemukakan bahwa Indonesia memang dalam keadaan krisis dan melambat pertumbuhan ekonominya. Oleh karena itu, jelas sebagian besar netizen Indonesia telah berasumsi adanya risiko kembali ke keadaan krisis moneter di tahun 1998. Akan tetapi hal ini jelas disanggah oleh Reza Priyambada sebagaiKepala Riset Korindo Securities Indonesia.
“Masyarakat awam menyamakan kondisi saat ini seperti 1998” – Reza Priyambada
Leafy Anjangi dari situs katadata.co.id – dalam penjelasan ekonografiknya tentang perbedaan krisis 1998, 2008, dan 2015. Dalam ekonografiknya, dijelaskan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia di 2015 ini hanya mengalami krisis mini.
Dari sisi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, 2015 mencatatkan 14.123, 2008 mencatatkan 12.650 sebagai krisis finansial, dan 2008 mencatatkan 16.650 sebagai krisis ekonomi. Dengan keadaan tersebut, keadaan ekonomi Indonesia masih dinilai aman. Namun masih tetap ada yang perlu diwaspadai:
1.  Inflasi
2.  Depresiasi Rupiah
3.  Suku Bunga Acuan BI
4.  Kredit Bermasalah/NPL
5.  Rasio Utang Pemerintah Terhadap PDB
6.  Cadangan Devisa
7.  Likuiditas Longgar
8.  Rasio Utang LN (Pemerintah dan Swasta) terhadap Cadangan Devisa
Asumsi Awam Berbanding Terbalik dengan Kondisi Terkini
Terkait dengan hal tersebut, kebijakan paket ekonomi ini akan menjadi penentu kondisi ekonomi ke depan. Kemudian, masih dalam persepsi netizen Indonesia terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar – terbentuk dari asumsi krisis 1998 akan terulang.
“Masyarakat awam menyamakan kondisi saat ini seperti 1998, ketika rupiah jatuh ke titik rendah bebas, harga-harga naik dan terjadi pengangguran,” tutur Reza Priyambada.
Namun jelas penilaian serta asumsi awam tersebut tidak sesuai dengan keadaan kondisi ekonomi saat ini karena jelas dari ekonografik yang dijelaskan sebelumnya, telah disebutkan pertumbuhan serta kondisi ekonomi Indonesia masih aman.
Risiko untuk kembali seperti 1998 memang ada, tetapi tidak mesti bahwa hal tersebut akan terjadi karena perbaikan terus dikerjakan. Oleh karena itu, perbandingan kondisi ekonomi sekarang ini masih lebih baik dari 2008 dan bahkan 1998.
Dan jelas dengan berbagai penjelasan di atas, memang tidak lantas ekonomi Indonesia mendadak menjadi lebih baik, akan tetapi proses perbaikan terus berjalan sehingga harapan untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi Indonesia baik secara nasional maupun global akan terpenuhi.
Sumber: 

Referensi
Penulis: Yanita Petriella Senin, 21/09/2015 21:43 WIB
Terbit: Bisnis.com, JAKARTA
http://finansial.bisnis.com/read/20150921/9/474729/ekonom-sebut-kondisi-ekonomi-indonesia-saat-ini-lebih-kompleks

Penulis: L.Sastra Wijaya
Terbit:  RADIO AUSTRALIA Terbit 11 September 2015, 12:30 AEST
http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2015-09-11/muliaman-hadad-awal-2016-situasi-ekonomi-indonesia-akan-berubah/1491800

Penulis: Didi Danarksumo
Terbit:  SELASAR EKONOMI Selasa, 29 September 2015 | 12:00 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar